40% Penggilingan Padi Kecil Anggota Perpadi Jatim Mati Suri

0
23

Jawa Timur, MENTARI.ONLINE – Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jawa Tiimur, Hendra Tan menjelaskan, Penggilingan Padi Kecil (PPK) di wilayah Jawa Timur mengalami mati suri karena kalah bersaing dengan pengusaha Penggilingan Padi Besar (PPB).

Akibatnya, puluhan ribu pekerja PPK di wilayah Jawa Timur terpaksa berhenti dari pekerjaannya karena tidak mampu bersaing dengan pengusaha besar. PPK, menurut Hendra Tan hanya bisa membeli pada petani pada Februari-Mei dimana pada periode waktu tersebut, petani di seluruh tanah air sedang panen raya.

“Harga gabah pada periode Februadi-Juli biasanya harga tidak terlalu mahal dan cenderung stabil. Sehingga pemilik penggilingan padi kecil mampu beli gabah,” terang Hendra. Sebaliknya, penggilingan beras besar jarang membeli gabah sehingga harga gabah jatuh dan petani tidak punya penghasilan.

Justru pada periode Agustus-November dimana persediaan gabah yang secara umum terbatas,dijadikan waktu bagi pengusaha penggilingan beras besar memperoleh banyak keuntungan membeli gabah petani dengan harga tinggi.

Menurut Hendra, para petani  cenderung menjual gabah miliknya ke PPB karena memperoleh harga jual tinggi. Namun hal tersebut berakibat naiknya harga beras di pasaran.

“Periode waktu inilah pemilik penggilingan padi kecil yang memiliki modal kecil mengalami periode. Sebaliknya pengusaha besar swasta bisa membeli gabah petani dengan harga tinggi dan dijual dengan harga tinggi juga,” kata Hendra.

Anggota Perpadi Jawa Timur yang didominasi kelompok penggilingan padi kecil mengalami penurunan anggota hingga 40% semenjak kemunculan PPB. Hendra Tan berharap pemerintah bisa menyelesaikan masalah ini.

Hendra menerangkan, saat ini ada 15.640 penggilingan padi kecil yang tersebar di Jawa Timur dengan 40% diantaranya mengalami mati suri. Apabila setiap PPK ada 10 karyawan, maka sekitar 80 ribu kehilangan pekerjaan.

Mereka berada di sejumlah kabupaten di Jawa Timur seperti Jember, Lumajang, Lamongan, Madiun serta Ngawi.

“Satu penggilingan padi kecil mempunyai 10 tenaga kerja.Sehingga jumlahnya memang cukup besar,” kata Hendra.

Dan bisa dibayangkan, apabila hal itu terjadi secara nasional, berapa banyak tenaga kerja penggilingan pad kecil yang kehilangan pekerjaan. Sudah tentu mencapai ratusan ribu pekerja.

Disisi lain, penetapan harga eceran tertinggi (HET) memang membuat harga besar gabah bisa stabil.Tetapi nilai HET itu diharapkan bisa longgar dengan menyesuaikan harga gabah di pasaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here